Rabu, 19 Januari 2011

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK USIA 0 - 6 TAHUN PADA TATARAN FONOLOGI, MORFOLOGI, SINTAKSIS, WACANA DAN SEMANTIK

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bahasa pada anak-anak terkadang sukar diterjemahkan, karena Anak pada umumnya masih menggunakan struktur bahasa yang masih kacau dan masih mengalami tahap transisi dalam berbicara, sehingga sukar untuk dipahami oleh mitratuturnya. Untuk menjadi mitratutur pada anak dan untuk dapat memahami maksud dari pembicaraan anak, mitratutur harus menguasai kondisi atau lingkungan sekitarnya, maksudnya ketika anak kecil berbicara mereka menggunakan media di sekitar mereka untuk menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan kepada mitratutrnya di dalam berbicara. Selain menggunakan struktur bahasa yang masih kacau, anak-anak juga cenderung masih menguasai keterbatasan dalam kosakata (leksikon) dan dalam pelafalan fonemnya secara tepat. lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Sehingga hasil bahasa yang diucapkan oleh anak-anak, berdasarkan dari kemampuanya dalam berinteraksi langsung pada bahasa-bahasa yang ada di sekitarnya.
’Pemerolehan bahasa’ yang diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh kanak-kanak mencapai sukses penguasaan yang lancar serta fasih terhadap ’bahasa ibu’ mereka atau yang sering dikenal dengan bahasa yang terbentuk dari lingkungan sekitar. ’Pemerolehan’ tersebut dapat dimaksudkan sebagai pengganti ’belajar’ karena belajar cenderung dipakai psikologi dalam pengertian khusus dari pada yang sering dipakai orang (Tarigan, Guntur; 1986: 248). Dalam hal ini pemerolehan bahasa pada anak akan membawa anak pada kelancaran dan kefasihan anak dalam berbicara.
Rentang umur anak di usia balita umumnya mempunyai kemampuan dalam menyerap sesuatu dan ingatan cenderung lebih cepat dibandingkan usia-usai diatas balita. Sehingga dalam usia-usia tersbut sebaiknya mendapatkan perolehan bahasa yang baik, anak harus selalu dirangsang dengan sesuatu yang bersifat pedagogig atau pendidikan. Pendidikan bahasa pada anak-anak tersebut harus selalu di tingkatkan untuk memperoleh hasil berbicara yang baik.
Dari data penelitian mengenai bahasa anak umur 3 tahun memberi kesimpulan bahwa umumnya anak dalam usia-usia tersebut memiliki semangat dalam berbicara, kemapuan keingintahuannya cenderung lebih besar. misalnya; menceritakan sesuatu yang terjadi di sekelilingnya kepada orang-orang terdekat, berbicara yang bertujuan untuk mendapatkan informasi dari lingkunganya. Anak usia tersebut walaupun mempunyai semangat yang tinggi dalam kompetensi berbicara akan tetapi mereka cenderung masih belum mempunyai kemampuan dalam pengontrolan emosi, sehingga bahasa yang dikeluarkan cenderung mengalami ketersendatan atau yang sering dikenal dengan penyakit gagap dalam berbicara.
Dalam hal ini peran orang tua sebagai fasilitator harus ekstra-aktif dalam pertumbuhan bahasa anak, dengan keaktifan tersebut diharapkan agar anak memperoleh bahasa yang baik dan lancar dalam berbahasa. Adapun dalam penelitian bahasa anak umur tiga tahun ini akan di fokuskan pada Naily dengan menggunakan pendekatan dari cabang linguistik mikro yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, wacana dan semantik

B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi bahasa anak umur 0 - 6 tahun
2. Ingin mengetahui sejauh mana ketercapaian berbahasa anak umur 0 - 6 tahun yang di fokuskan pada Ahmad Mustofa Edi Utama






BAB II
PEMBAHASAN

Pemerolehan bahasa anak dapat secara maksimal diperoleh dari lingkungannya. Sehingga pemerolehan yang maksimal, dapat mempengaruhi out put bahasa yang dikeluarkan dari anak tersebut. Dari perolehan data penelitian, menunjukan bahwa keberhasilan anak umur 0 - 6 tahun dalam berbahasa, yang dimaksudkan adalah kefasihan dalam berbicara adalah faktor lingkungan. Adapun cakupan komponen yang termasuk dalam katagori lingkungan adalah peran aktif orang tua, fasilitas pendukung dalam pemerolehan bahasa, orang-orang terdekat dengan anak, misalnya; Baby Sister, kakak, kerabat dan saudara yang usianya di atas anak tersebut.
Seperti yang diungkapan di dalam pendahuluan tentang semangat berbicara pada anak dan rasa keingintahuan akan sesuatu, dapat dilihat dari transkrip rekaman 1 dan 2. Pada transkrip rekaman 1 dan 2 ini merupakan satu alur cerita, data tersebut diambil pada waktu siang hari tanggal 26 Desmber 2010. Dalam rekaman ini O1 (anak) dan O2 (bapak). O1 menanyakan apa yang sedang dikerjakan oleh bapaknya dengan menggunakan bahasa yang seadanya. Transkrip rekaman ketiga merupakan pembicaraan antara O1 (anak), O2 (Ibu) dan O3 (Peneliti). Dalam pembicaaan tersebut O1 bertanya kepada O2 tentang cara berbelanja, adapun O3 dalam pembicaraan tersebut tidak menjadi titik fokus dalam pembicaraan.

2.1 Tataran Fonologi
Fonologi merupakan cabang mikro linguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa ditinjau dari fungsinya. Dan fonetik adalah cabang lngistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa yang lebih terfokus pada sifat-sifat akusitknya atau pelafalanya ( Verhaar: 2001: 10). Pada tataran fonologi ini tidak terdapat kejanggalan dalam meneliti pemerolehan bahasa karena O1 terbilang lancar melafalkan bunyi – bunyi bahasa dengan jelas dan bisa diterima oleh O2.

2.2 Tataran Morfologi
Ditinjau dari pendekatan morfologis dalam pemrolehan bahasa yang dipakai Ahmad Mustafa masih belum teratur maksudnya anak tersebut belum bisa menempatkan afiks dalam suatu kata sehingga dalam percakapannya si anak menggunakan kalimat yang mudah dipahami mitratuturnya tanpa menggunakan kata berafiks. Jadi diksi yang digunakan anak tersebut menggunakan diksi yang tidak menggunakan kata berafiks. Banyaknya kata dalam percakapan yang digunakan si anak dengan melesapkan atau menyingkatkan kata tersebut dapat dilihat pada kalimat;
1. Pak baru ngapain to? => ”Bapak sedang apa?”
2. Pak panas gak ini pak? => ”Pak ini panas tidak?”
Beberapa kalimat yang menggunakan kata yang tidak utuh atau mengalami penyingkatan, akan tetapi masih bisa dipahami oleh mitratuturnya. Dalam pertama pada kosa kata ” Ngapain” menurut saya tataran morfologinya kurang tepat karena kosa kata tersebut merupakan suatu interferensi. Begitu pula dengan kalimat yang ke dua pada kata ”gak” kosakata tersebut dilihat dari segi tataran morfologi juga tidak sesuai karena juga termasuk dalam sebuah interferensi yang tidak bisa dianalisis.

2.3 Tataran Sintaksis
Pemerolehan bahasa anak dikaji berdasarkan pendekatan Sintaksis. Dari data yang diperoleh penggunaan bahasa pada si anak sudah mulai baik, si anak sudah dapat menempatkan kalimat yang bersifat introgatif, Deklaratif, Imperatif.
Seperti pada beberapa kalimat ini.
3. Pak panas gak yang ini pak?
4. Didik pegang semuanya pak, Panas gak?
Kedua kalimat di atas merupakan kalimat introgatif yang diucapkan si anak, kalimat keempat merupakan ucapan pengulang pada percakapan ketiga pada transkrip rekaman 2. Si anak mengulang kaliamt tersebut dengan maksud untuk memperjelas bahasa yang dikeluarkan dari mulut si anak, karena si anak merasa kalimat yang dikeluarkannya dengan tipe kalimat tanya tersebut tidak sepenuhnya jawaban dari pertanyaannya dijawab oleh O2 yang berstatus sebagai orang tua (bapak).

2.4 Tataran Wacana
Menurut Harimurti Kridalaksana (dalam Sumarlam,dkk,2003:5) pengertian wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap: dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Dalam penelitian pemerolehan bahasa Indonesia pada anak usia 0 – 6 tahun ini tidak terdapat wacana yang diperoleh oleh peneliti. Karena objek penelitian ini belum mampu bercerita secara baik dan benar.

2.5 Tataran Semantik
Pemerolehan bahasa pada tataran semantik pada anak usia anak 0 – 6 tahun yang ditekankan pada Ahmad Mustofa. Peneliti menganggap sudah bisa dimengerti oleh mitraturnya dalam tanda petik masih di sekitar lingkungan keluarga dan lingkungan hidupnya.
Transkrip rekaman 1
O1 : Pak baru ngapain to?
O2 : Bapak baru ngapain to ini?
O1 : Pak panas gak ini pak?
O2 :Tak Coba dulu ya?

Transkrip rekaman 2
O1 : Pak panas gak yang ini pak?
O2 : Ya kalau belum ditancapkan belum panas.
O1 : Mas Tofa pegang semuanya pak, Panas gak?
O2 : Kalau belum di tancepin listrik ya nggak apa-apa, hena nanti kamu jangan dipegang lo ya,..ya,........
O1 : Pak Yang panas yang mana pak, yang ini, Ais nyoba!
O2 : Udah-udah

Dari transkrip rekaman 1 dan 2 dapat dikatahui bahwa bahasa Indonesia yang diucapkan oleh Ahamad Mustofa dapat dimengerti oleh mitratuturnya dan oleh peneliti.
2.6 Psikolinguistik
Seperti pada pembahasan awal tentang psikolinguistik, psikolinguistik merupakan cabang linguistik yang lebih menekankan dalam segi psikologi dalam berbahasa. transkrip rekaman no.3 pada kaliamt 6 dan kalimat 8 dapat disimpulkan bahwa si anak belum bisa mengontrol emosinya dalam berbicara, sehingga suatu hal yang fatal adalah terjadinya cacat dalam berbicara atau gagap.
Ma,..mi,.....ma,....... maem dulu ya, la,...la,..la,...lagi ke tempatnya mbak ida ya. Ke tempatnya mbak idanya piye?
Bu,..bu,...habis itu ke tempatnya mbak ida. Bu,..bu,..bu,.. bu..tofa minta jajanan milkuatnya ya..?
Pada saat itu si anak sedang bertanya kepada ibunya mengenai cara bertransaksi jual beli walaupun dalam hal ini sudah di transformasikan kebahasa si anak tersebut. Pada kata ”Ma,..mi,...ma,....” ketika itu si anak bermaksud untuk memanggil ibunya denagn sebutan ”Ummie” akan tetapi karena si anak belum bisa mengontrol emosi ketika berbicara sehingga bahasa yang dikeluarkan tersendat-sendat. Dan pada kata ”la,..la,..la,..lagi” yang dimaksudkan si anak tersebut mengucapkan kata ”lagi” dan pada kata ”bu,..bu,...” yanb berarti ibu sama hal seperti pada kata ”lagi” dan ”ummie” kata tersebut mengalami cacat calam berbahasa.

BAB III
SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak sehingga peran aktif lingkungan yang positif dalam berbahasa akan membawa dampak positif pula pada bahasa si anak. Setelah ditinjau dari beberapa cabang linguistik yang meliputi mikro linguistik yaitu tataran fonologi, morfologi, sintaksis, wacana dan sintaksis beserta psikolinguistik bahwa bahasa anak pada umur 4 tahun yang berfokus pada Ahmad Mustofa Edi Utama adalah pengontrolan atau partisipasi orang tua dan orang-orang yang sering berinteraksi pada si anak harus lebih di perhatikan karena perkembangan bahasa pada anak dapat ditentukan oleh lingkungan.
















DAFTAR PUSTAKA


Sumarlam, dkk. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra Surakarta.
Tarigan, Guntur. 1986. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.
Verhaar. 2001. Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gajah Mada University press.

















LAMPIRAN

Transkrip rekaman 1
O1 : Pak baru ngapain to?
O2 : Bapak baru ngapain to ini?
O1 : Pak panas gak ini pak?
O2 :Tak Coba dulu ya?

Transkrip rekaman 2
O1 : Pak panas gak yang ini pak?
O2 : Ya kalau belum ditancapkan belum panas.
O1 : Ais pegang semuanya pak, Panas gak?
O2 : Kalau belum di tancepin listrik ya nggak apa-apa, hena nanti kamu jangan dipegang lo ya,..ya,........
O1 : Pak Yang panas yang mana pak, yang ini, Ais nyoba!
O2 : Udah-udah

Keterangan:
Identitas O1:
Nama : Ahmad Mustofa Edi Utama
Umur : 4 Tahun (+10 bulan)
Status : Anak
Identitas O2:
Nama : Wagiyo
Umur : 45 Tahun
Status: Orang tua (Bapak)


Trankrip rekaman 3
O1 : Ma,..mi,.....ma,....... maem dulu ya, la,...la,..la,...lagi ke tempatnya mbak ida ya. Ke tempatnya mbak idanya piye?
O2: he,..eh
O1 :Bu,..bu,...habis itu ke tempatnya mbak ida. Bu,..bu,..bu,.. bu..Tofa minta jajanan milkuatnya ya..?
O2: Oya he,.eh,......
O1: Lalu Mintanya kopiko nya gimana?
O2: Minta sama bude tohanya no?
O1: Mintanya piye?
O2: Bude minta permennya bude..
O1: Bukan permen tapi kopiko
O2:Ya permen juga kan kopiko. ya,... Kopiko kan juga permen, tofa lupa ya.
O2: Bisa ngak bukanya,..?
O1: Bisa.
O2 : Tak tinju mau ndak.
O2 : Ni lo fa ada apa ne fa,..
O3 : he,..eh,..
O1: Bu endak ada apa-apa no bu!
O2: Nggak ada apa-apa.

Keterangan :
Identitas O1:
Nama : Ahmad Mustofa Edi Utama
Umur : 4 Tahun (+10 bulan)
Status : Anak

Identitas O2:
Nama : Siti Nurhayati
Umur : 40 Tahun
Status: Orang tua (Ibu)
Identitas O3
Nama: Ahmad Safi’i
Umur: 22 Tahun
Status: Peneliti

1 komentar: